Rabu, 04 Desember 2013

Pesantren, tempat tinggal yang nyaman dan aman

Mungkin banyak orang beranggapan kalau pesantren bagaikan sebuah tempat penjara yang suci, dan berpikir di pesantren merupakan tempat didikan anak yang nggak bener agar menjadi lebih baik lagi. Anggap saja orangtua berkata “Saya nyerah deh didik anak jaman sekarang, mending di pondokin biar jadi bener.” Bahkan ada yang beranggapan pesantren itu kuno dan nggak modern, eh siapa bilang? Emangnya belum tahu ya, kalau sekarang sudah menjamur pesantren modern?

Dua kali aku sudah merasakan pesantren modern, ya! Aku bangga dan mengakui aku lulusan dari pesantren. Lalu apa? Jujur, keinginan aku untuk berada di pesantren lantaran bukan karena kemauan orangtua yang memaksa agar anaknya menjadi lebih baik lagi, atau aku anak yang nakal. Dan juga bukan karena sang ayah yang ingin anaknya juga seperti beliau. Kebetulan ayah alumnus dari pondok pesantren Gontor Putra. Aku terbilang anak yang religi, dari SD sampai SMP aku di sekolahkan dengan cukup pelajaran agama Islam ditambah lagi, dari SD sudah mengaji di TPA hingga SMP bekal sudah cukup. Dan kenapa aku mau di pesantren?

Keinginan untuk menjadi santri karena beberapa alasan, pertama, aku ingin sekali pergi jauh dari rumah. Khususnya ingin melarikan diri dari ayah. Loh emang kenapa? Ayahnya jahat? Haha off the record. Alasan kedua, aku ingin mahir berbahas asing.  Aku dengar waktu SMP, kalau di pesantren modern itu percakapan kesehariannya menggunakan bahasa arab dan bahasa inggris. Dan sejak kelas 2 SMP itu niat untuk menjadi santri semakin menggebu-gebu. Jadi, setelah lulus SMP dengan lantang aku ngomong ke orangtuaku bahwa aku ingin di pesantren dan menjadi santriwati. Orangtuaku adalah orangtua yang OK selagi keputusannya adalah yang terbaik, kenapa nggak.

Niat sudah bulat ingin ke pesantren yang berada di mantingan, Jawa Timur. Keanehan pun terjadi, bukannya aku langsung didaftarkan, orangtuaku justru menawarkan ke berbagai pesantren modern lainnya. Seingatku, sempat ke pesantren Darunnajah dan Latansa, dengan mendaftarkan untuk menjadi bagian santriwati. Akhirnya, jadi juga daftar ke Gontor Putri. Hanya berlangsung satu tahun merasakan pesantren yang luar biasa kedisiplinannya itu, tidak betah. Kemudian aku pindah ke pesantren yang berada di Daar el Qalam. Alhamdulillah sampai lulus. 

Itu sih cerita dari pengalaman dan proses singkat aku bisa masuk pesantren. Apa yang aku rasakan ketika menjadi santriwati dan kemudian lulus? Waah ini menjadi suka sekaligus duka. Ketika keluar rumah, mau tidak mau orang yang berada di lingkungan sekitar sudah memberi penilaian, bahwa anak pesantren adalah anak yang sangat religi, pinter ngaji, ceramah, dan tidak macem-macem, pacarannya sehat, dll. Aku sendiri santai dengan penilaian positif itu, tapi apa jika kita sedikit melakukan kesalahan kecil saja? Anggap saja nggak pernah menyapa tetangga, pastinya jadi omongan “Kok dari pesantren nggak ada ramah tamahnya ya?” Kesalahan kecil seakan bencana yang akan melekat sampai kapan pun (berat) dengan mengekor label dari pesantren. Mau gimana lagi?

Faktanya, selama di pesantren perubahan dalam diri yang aku rasain tidak berubah sama sekali, dari segi akhlak dan ibadah tetep stabil, ya nggak terlalu jeblok dan super. Stabil lah seperti aku yang dulu sewaktu mengaji dan di sekolahkan di tempat Islami. Bedanya, aku lebih istiqamah memakai hijab. Alhamdulillah.

Yang aku heranin, kenapa sih kata pesantren erat kaitannya dengan suci, seakan orang yang dari pesantren nggak punya dosa dan kesalahan. Ya ampun, sama-sama manusia, pasti ada kesalahan. Jujur, tidak sedikit juga hasil dari pesantren yang kemudian melepas hijabnya (ini yang sering aku temui) dan teman yang sudah mulai melupakan ilmunya (entah itu hadis, fiqh, mahfudzat, muthalaah, balaghah, dll) dan melupakan kosa-kata bahasa arab. Parahnya lagi, ada yang menutup-nutupi background mereka yang berasal dari pesantren. Sempat membandingkan dengan teman yang murni SMP-Kuliah di sekolahkan di negeri tidak berbau Islam acan. Yang ternyata nggak kalah religi dari pesantren boo (duh bahasa gue). Tercengang ketika akhwat tersebut dengan lemah lembut pandai sekali membahasakan hadis. Bandingkan dengan diriku yang jauh dari kata santun dan anggun. Hijabnya juga lebar, sempet keki sih liat mereka yang notabene bukan dari pesantren tapi kelakuan sungguh nyantri, Bedanya? Alhamdulillah aku yang di pesantren lebih mahir berbincang bahasa arab.


Senin, 30 September 2013

Semangat Lari Pagi

Tepatnya di hari minggu, jam setengah 6 pagi setelah salat subuh.

Hal yang aku lakukan untuk memulai pagi yang indah ini adalah dengan niat joging, dan yang pertama aku lakukan sebelum joging adalah pemanasan. Melemaskan badan yang masih kaku saat bangun tidur itu penting banged sebelum memulai joging. Walau hanya lari tetapi pemanasan itu penting loh, biar nanti pas lari badannya nggak kaget. Setelah pemanasan selesai, aku memakai kaus yang mudah menyerap keringat, celana panjang bahan kaus yang mudah menyerap keringat, dan jilbab bergo dengan sepatu ketz yang sangat ringan dipakai.
Aku mulai jalan santai terlebih dahulu dan lama-lama jadi jalan cepat. Saat berjalan ini aku sengaja melepas kacamataku yang sudah minus 4 ini, niatnya adalah juga untuk melakukan olahraga mata, membiasakan melihat jarak jauh tanpa kacamata. Rasanya segar sekali tidak memakai kacamata saat udara pagi menerpa wajah ini, yaa.. walau sedikit buram melihat.
Sesampainya di track buat joging, yaitu Regency atau dikenal Graha Raya. Menjadi tempat orang-orang untuk lari-lari pagi sepertiku. Regency menjadi tempat yang ramai dikunjungi saat hari minggu tiba. Ada yang berolahraga dan juga berdagang.

And now time start for RUN... ! Ampuun berasa cepet capek dan mudah keringatan rupanya. Apa karena jarang banged olahraga? Bahkan fakum selama hampir satu tahun? Oh my goodness, padahal dulu joging menjadi acara pavorit aku di hari minggu waktu aku masih SMP.


Sekarang, karena tuntutan usia yang mengharuskan aku untuk berolahraga, menjadi alarm kesehatanku saat ini. Di usia 26 tahun, aku harus memanfaatkan waktu sehatku dengan berolahraga. Selesai joging yang hanya butuh waktu satu jam saja buatku. Aku mengaso kemudian, dengan meminum air putih satu gelas, dan aku merasa kelaparan. Jeng jeng ! aku membuat menu sarapan penuh gizi yaitu telor ceplok dan segelas susu. Telurnya aku kasih lada dan garam loh! mm.. yummy.



Senin, 16 September 2013

Jadi mahasiswa itu menyenangkan

Kuliah harusnya menjadi pijakan untuk menggapai keinginan kita, passion kita selama ini. Aku mulai melihat dari ke dua sahabatku. Farhana dan David bagaimana keduanya bersemangat sekali dalam belajar. Duduk dalam bangku kuliah dengan mengambil konsentrasi yang sama, jurnalistik. Mereka sangat antusias sekali dalam belajar, yang pada intinya terkait masalah dunia jurnalisme. Saat kutahu bahwa ke duanya memiliki keinginan yang sama untuk terjun dalam dunia berita, khususnya news anchor

Perjuangan mereka ketara sekali; beberapa kali mengikuti workshop, seminar, dan audisi dalam dunia penyiaran, jurnalistik. Hal-hal yang berbau jurnalisme dimanfaatkan oleh mereka. Yang kutahu, keinginan mereka untuk menjadi seorang news anchor tidak pernah padam. Bahkan semakin membara ketika lulus. Contohnya, Farhana beberapa kali mendapat tawaran interview di stasiun tv swasta jakarta. Selalu bolak-balik Malang-Jakarta, tidak pernah kapok. Gagal dan kemudian kembali bangkit lagi. Farhana orang yang over Pe-De. Aku yakin dengan over Pe-De-nya dia, Farhana bisa mendapatkan apa yang sudah menjadi ambisinya selama ini.

David, seorang teman yang eksis sekali di kampus. Menjadi pusat perhatian anak-anak ikom di UMM. Siapa sih yang tidak kenal sosoknya yang charming, baik hati, dan supel-nya dia? Teman satu angkatan, senior, dan junior mengenalnya. Setelah aku lulus aku tidak mendapatkan kabarnya, yang kutahu David sedang fokus menggarap skripsinya, dan kegiatannya yang “sok” sibuk itu.

Tujuan masing-masing orang tentu berbeda-beda begitu juga dengan mengusahakannya. Tiap orang itu beda-beda, tergantung segigih apa mereka untuk mendapatkan sesuatu itu menjadi mungkin. Itulah yang dapat aku ambil pelajaran dari seorang yang memiliki impian yang jelas dan mengusahakannya juga jelas. Seimbang bukan? Arahkan mimpi itu menjadi mungkin dengan usaha yang maksimal. Plan it, Do it. Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaumnya jika kaumnya itu sendiri yang mengubahnya?

Sekarang Allah melihat jerih payah usaha mereka, Kini Farhana menjadi seorang reporter di Net tv (2013). Dan David, ia dapat menyusul cepat teman-temannya yang sudah lulus dengan kebanggaan passionnya, kini ia menjadi seorang reporter di liputan 6 SCTV.




Happy, free, confused, and lonely at the same time

Sahabat tipe apa yang kamu miliki untuk ada bersamamu?

Bicara tentang sahabat? Mungkin identik dengan memiliki kecocokan, adanya keterbukaan satu sama lainnya. Teman berbagi suka maupun duka. Pacar kedua kita setelah kekasih? Barangkali.

Sangat banyak tipe sahabat yang aku miliki, sahabat yang baik, lucu, perhatian, pengertian, mencerahkan hati, dsb. Disini aku hanya membicarakan seorang sahabat yang sangat berkesan dalam hidupku, kenapa? Kalau kata taylor swift; “Happy, free, confused, and lonely at the same time”

Getri namanya. Seorang perempuan yang usianya 2 tahun lebih muda dariku.  Pertama kali bertemu, berteman, dan menjadi sahabat saat kuliah di Malang. Kami memiliki zodiak yang sama yaitu, Scorpio. Ya.. jadi kita tahu seperti apa karakter Scoprio. Banyak cekcok kemudian damai. Begitu berulang kali bahkan sering.

Banyak sekali kesan yang timbul dari bersahabat dengannya. Ketika aku sedih, aku hanya menceritakan sebagian dari kesedihanku saja, begitu juga dengan kebahagiaannku. Pada intinya, aku tidak terlalu terbuka dengan getri. Tapi aku merasa nyaman dengannya. Karena saat aku jenuh, bosan dan penat getri hadir dan tahu moodku. Ia selalu mengajak aku ke luar kos; jalan-jalan gak jelas, habisin uang bulanan, yang penting happy. Mungkin karena berzodiak sama? Jadi saling tahu mood kita masing-masing? Ah entahlah. Yang jelas saat aku bosan, getri selalu hadir mengubah moodku menjadi lebih baik.

Lucunya, ketika sama-sama penat dan bersedih. Awalnya kita tidak saling bicara hanya menutup perasaan masing-masing, kemudian ketika ada salah satu dari kita yang mulai berani bercerita, kita saling menceritakan kepenatan dan kesedihan. Terjadi begitu saja. Saling support satu sama lain, menyarankan sebisanya, dan mengingatkan kebaikan demi kebaikan.
Getri selalu menemani hari-hariku ketika di Malang. Dulu masih sempat satu kamar, satu kos. Kemudian beda kos-an, tapi kita masih sering jalan-jalan menyelesaikan kepenatan kita masing-masing. Yang jelas, saat aku kesusahan getri selalu ada, dan mau membantu. Terimakasih getri untuk hari-hari yang telah aku lalui bersamamu. Kamu memberiku kesan yang begitu indah akan hangatnya kebersamaan kita.


Oya, kamu masih inget nggak waktu kita di Kampung inggris, Kediri? Niat belajar bahasa inggris, ternyata kita meratapi kesedihan bersama? Dalam waktu yang bersamaan pula, kita sama-sama punya rasa sakit hati karena cinta kekasih, dan merasa asing sendiri di kota orang. Lalu bersepeda menjadi pelariannya.Tidak ada Mall. “Happy, free, confused, and lonely in the best way”



Senin, 09 September 2013

Arti Sedekah itu ikhlas

Ceritanya saat di mobil, Bang ilyas menceritakan tentang kronologi BBnya yang telah hilang dengan bijaknya ia bilang “ Ah di ikhlasin saja lah, kali aja dikasih yang lebih bagus dari itu kan?” sejurus kemudian Mak eta jawab “Iya, anggap saja itu sedekah”

Perkataan mereka sejenak membawaku ke alam sadar. “ikhlas? Sedekah? Ganti yang bagus?”  3 kalimat yang masih mengiang hingga sekarang. Ah! Aku mungkin sangat drama, mengaitkannya dengan cinta yang hilang. Tahukah? bagiku itu tidak mudah, sulit sekali, tapi untuk hari ini, perkataan yang mengalir dari mulut mereka membuatku berpikir,

Sedekah adalah bagian dari keikhlasan. Menurutku, kalau kita sudah memberikannya dengan kebanggaan hati tentunya rasa ikhlas itu muncul untuk memberinya bukan? Tanpa atau dengan mengharapkan balasan. Apakah sedekah mengharapkan balasannya? Awalnya pasti nggak dong, kalau memang niat lillahi ta’ala urusan dapat pahala insya allah dapet kalau memang ikhlas.  

Sama saja seperti aku yang bangga memberikan rasa suka itu kepadanya. Lalu aku memberi cinta kepadanya dengan keikhlasanku saat itu, berharap mencari ridha-Nya siapa tahu aku jodohnya. Itu harapku.


Ketika hilang, siapa yang mau tahu selain kata ikhlas? Ya, aku berpikir kata ikhlas mungkin tercerna dalam tindakan agak sulit. Toh nanti akan ada yang lebih bagus ya gak? Anggap saja hilangnya BB bang ilyas yang gak seberapa, nantinya akan ada pengganti yang lebih baik lagi, siapa tahu bang ilyas bisa dapet i-phone. 

Seenggaknya itu cara memikirkan “pengganti yang lebih bagus”, bisa lebih menyenangkan kan? 




Senin, 05 Agustus 2013

Perindu kosan

Semalam, kami baru berbincang-bincang lagi di telepon, aku dengan adik kosanku waktu kuliah di malang. Sangat senang rasanya ketika mendengar suaranya nan riang dari kejauhan sana. Kami mengobrol panjang lebar, terutama aku yang selalu bertanya tentang suasana kosan dan kabar kota Malang. Rasanya rindu sekali dengan hal-hal kehidupan di Malang. Adik kosanku bernama ade asli orang Madura, dengan logat kentalnya ia mulai bercerita, kalau suasana kosan sekarang sudah tidak seramah ketika aku dan penghuni lama masih berada di Wisma Kamilia, tempat kami singgah untuk menuntut ilmu.

Wisma kamilia menjadi saksi biksu aku yang sekarang menjadi seorang sarjana. Satu persatu penghuni lama sudah pergi meninggalkan Wisma Kamilia. Nampaknya mereka sama sepertiku yang sudah puas mendapatkan gelar sarjana, lalu tega meninggalkan tempat yang suka maupun duka ada di Wisma. Sepanjang perjalanan menuntut ilmu di Malang, tidur, mandi, makan, belajar, ngobrol, nonton tv, mencuci, menggosok, adalah rentetan kegiatan saat berada di Wisma Kamilia.

Aku merasa sangat nyaman bisa tinggal di kosan yang terlihat elit nan murah itu. Bayangkan saja, Wisma Kamilia seperti hotel yang hanya memiliki 3 lantai dengan berbagai fasilitas:  
tempat tidur, lemari, meja belajar, listrik, dapur dengan kompor gas nya perlorong, kamar mandi 2 di luar perlorong, televisi di luar per lorong, aku hanya membayar 2,5 juta per tahun. Yaa, walaupun aku memlilih kamar yang kecil, tapi menurutku tidak sumpek, aku berada di lantai 3, dan dari arah jendela aku bisa meloncat dan bisa berada di balkon kamarku sendiri. Fasilitas yang memadai menjadi sangat luar biasa, ketika teman-teman kos layaknya keluarga. Aku bisa berteriak memanggil rara di lantai 2, aku bisa menyetel musik sangat kencang ketika pagi, aku bisa salat berjamaah dengan teman-teman kos. Rasanya tidak mau pisah dari mereka. Fasilitas dan suasana di wisma kamilia kini tinggal kenangan, Aku hanya bisa bersedih ketika ade bercerita tidak seramah dahulu, kemudian terlihat individualis, dan penghuni lamanya kini telah pergi satu-persatu. Ade masih satu tahun lagi di Wisma, ia melanjutkan S1 dari selesai D3 nya.

Lalu emak si penjual nasi sayur dan gorengan keliling langganan kami, kini tidak berjualan lagi. Kata ade, sekarang tidak ada yang beli. Jadi ingat, sekitar jam 9 pagi emak sudah meneriaki kami dari lantai 1 “Rek, nasiiii… sayuurrr…. Gorengan, masih anget.” Buru-buru kami menyautinya “Tunggu mak.” Dan lari dengan semangatnya menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar. Ah, ternyata aku merindukan masakan emak.

Aku mulai bertanya lagi tentang para penjualan yang sering ng-time di Wisma Kamilia, bagaimana dengan cak dul? Si tukang bakso Malang yang baksonya super duper yummi, mamang bubur? Bubur asli bandung dan mamangnya oge urang sunda, Tukang utuk-utuk? Yang selalu berisik berteriak “Mbaaak, utuk-utuk, weci, getasss!”. Dan ternyata mereka masih berjualan. “Alhamdulillah.” Ucapku. Yang buatku terkejut dari ucapan ade di telepon adalah soal harga satu bakso cak dul kini Rp 2000 per bakso? Sesuatu fenomenal, dulu aku membeli per-bakso-nya hanya Rp 500 saja.

Aku rindu suasana kos di Wisma Kamilia. Kapan aku bisa menjamahnya lagi dan mengatakan. “Kamu gak digusur kan?”




Selasa, 09 Juli 2013

Metamorfosis nama


Tidak ada sebuah nama tanpa arti, mungkin itulah yang dipikirkan masak-masak oleh kedua orangtua kita sebelum kita lahir, memberikan nama untuk si calon buah hati dengan harapan nantinya, anak tersebut akan memiliki arti sesuai dengan nama yang akan melekat hingga ujung usianya.

Mungkin orang tua akan mencari-cari nama untuk anaknya sampai yang diinginkannya terpuaskan.

“Nah mungkin ini nama yang cocok untuk anak kita,pas dengan artinya ‘Hati nurani’ wijdan. “
Terlahir di tahun 1986 anak perempuan tersebut diberi nama wijdan ‘hati nurani’ yang entah kenapa terdengar seperti nama untuk anak laki-laki, kini tercokok sangat kuat pada seorang anak perempuan dengan nama wijdan. Sungguh aku berterima kasih kepada orang tua yang telah memberiku nama dengan arti yang sangat indah ini, ‘hati nurani’ dengan arti tersebut aku seakan menjadi sosok yang sangat ‘perasa’ dengan hati yang tidak bisa dikecewakan. Namun pada kenyataan sepanjang perjalanan hidup wijdan memberiku makna yang sangat indah.

Beralih ke nama, pada usia yang menjelang 27 tahun ini, tidak hanya nama wijdan saja orang-orang mengenalku. Berbagai pelencengan nama wijdan pun terjadi.

Diawali dengan nama kecilku ‘jade’ (baca : jid) keluargaku dari Jakarta dan Situbondo memanggil “kakak jade, adik jade” tanpa tahu artinya, hingga kini ‘jade’ tidak pernah lepas dari gaungan keluarga yang memanggilku.

“Dol” dodol? Artinya bodoh, entahlah hanya kakak dan adikku saja yang memanggil dengan sebutan ini. Berawal dari ulah kebodohanku dalam bercanda dengan saudara kandungku ini, panggilan ‘dodol’ menjadi sangat akrab di telingaku.
Wijdan, mungkin orang-orang yang memanggil namaku agak sulit dengan karakter lidah  orang-orang yang beragam, sehingga nama wijdan bisa berubah menjadi ‘wisdan, wizdan, widan’ Ah kalau sudah begitu wijdan akan menjadi sebuah arti yang salah.
Simplenya orang pasti akan memanggil namaku pada konsonan terakhirnya “dan” pasti dengan seketika akan menyaut “Ya, saya?”

SD, teman-teman SD sering membuli namaku hingga menjadi ‘wajan’ ‘zidan’ ‘bidan’ ‘edan’

SMP, metamorphosis wijdan to be ‘idhan’ Ada seorang teman suddenly memberiku nama panggilan idhan. Mungkin kedengarannya bagus, mengingat untuk menyebut wijdan sangat susah, dan juga belum ada nama panggilan untuk si wijdan. Kadang suka bingung kalau di tanya, “nama panjangnya siapa?” | gak ada, wijdan aja kok | nama panggilannya? | wijdan juga  #eaaa
Dan saatnya aku memiliki nama panggilan yaitu idhan.

Senior High School, wijdan seolah berevolusi lagi, ada yang manggil ‘wijdun, wije, weje’

Kuliah, aku baru PD memploklamirkan nama ‘idhan’ untuk panggilan yang akan menemaniku nanti. Jadi ceritanya, saat ada yang berkenalan denganku aku dengan lantang akan menyebut “idhan”
Dan sebutan "Mbah" , entah dari mana asal si panggilan tersebut bisa melekat sampai sekarang. Mungkin diantara mereka, usiaku di atas mereka.  

Saat booming situs jejaring sosial, saat sign up mengisi form, aku isi nama depan idhan, dan bingung dengan nama belakangku akan di isi apa? Oke kali ini aku sangat bingung dengan gelar nama belakangku. Sempat beberapa nama belakang menjadi pelekatan setelah nama idhan, ‘hoelwun, bahri, kirei, papan, hulwah’. Adanya nama belakang ini, beberapa teman selalu kepo “hoelwun, bahri, kirei, papan, hulwah?? Maksudnya apa? Artinya apa?“

Simple saja menjawabnya,

hoelwun di ambil dari bahasa arab yang artinya manis, Bahri adalah nama belakang ayah, kirei diambil dari bahasa jepang yang artinya cantik, papan?
Dan ini yang menjadi pemikir untuk nama belakang yang akan digunakan di beberapa jejaring sosial, istilah katanya, nama entertainer. Kalau dianalogikan aku ya seperti papan dengan fisik tubuh yang kurus. Papan tercetus dari obrolan seorang teman yang mengibaratkan orang kurus itu seperti papan. 
Dan aku pun mulai merasa papan itu sepertinya akan pantas dengan gandengan nama untuk idhan, jadi idhan papan nama depan dan nama belakang sama-sama berakhiran ‘an’. Nama papan sempat menjadi fenomena. Karena nama adalah sebuah doa, aku ingin gemuk dan tidak ingin selalu kurus. Aku mengganti papan dengan hulwah, artinya masih sama dengan hoelwun yang diambil dari bahasa arab artinya manis.


Shakespare pernah berkata “Apalah arti sebuah nama” Namun buatku, metamorfosis sebuah nama yang memilki arti penting dalam hidup, merupakan sebagian dari perjalanan hidup. Bisa merasa lucu, aneh, puas, hanya dengan sebutan dari nama. 



Agenda Muslimah


Buku baru di bulan Juni 2013, buat yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Wajib punya buku ini !
Di dalam buku ini, kalian akan menemukan informasi bulan-bulan islam atau hijriah, plusnya lagi, kalian punya  semacam agenda untuk mengarahkan progres ibadah kalian sepanjang tahun. Mau muhasabah diri? buku ini cocok buat kalian yang ingin maju lebih baik lagi. :) 
Silakan dibeli dari penerbit qultummedia.  

Launching Blog akunya

Assalamualaikum? Ahlan wa sahlan ... ??

Hai reader ini blog ke 3 aku loh, blog sebelumnya adalah hasil corat-coretan yang lebih banyak share masalah pribadi. Kali ini aku mencoba untuk menulis lagi dalam blog pertamaku ini  "Since 86"
Mungkin sama dengan blog-blog sebelumnya yang menceritakan masalah pribadi. hehe
Tapi kali ini, aku ingin menulis dengan lebih bermutu dan bermanfaat. Semoga kalian menyukainya ^^

Kenapa aku menamakan since 1986? tahun kelahiranku di tahun 1986. sejak aku lahir hingga saat ini, tentunya aku memiliki pengalaman hidup yang sudah aku lalui dari tahun ke tahun. Nah, since 1986 ingin berbagi kisah dan informasi yang telah dilaluinya. Dengan begitu semoga apa yang aku tulis di dalam blog ini menjadikan manfaat buat kalian. Aaamin.

Salam,

idhan