Selasa, 11 November 2014

Goodbye 27 welcome 28

Tuhanku Allah yang Maha Esa, 11 November 1986 tepat hari ini usiaku menjadi 28. Teringat saya telah dilahirkan ke dunia ini dari rahim seorang ibu. Sudah seharusnya saya bersyukur menanti usia yang semakin menua. 27 tahun sudah saya lewati sekarang, 28 tahun dalam doa dan harap sama kepada-Nya.

Ya Allah, semoga saya diberi umur yang barakah, setiap langkah kian berarti untuk hidup di akhirat nanti. 
Ya Allah, gantikan keresahan hati ini dengan keceriaan.
Ya Allah, semoga saya diberikan kesehatan jasmani dan rohani.
Ya Allah, semoga tahun ini saya diberikan jodoh yang terbaik, yang mencintai saya karena Allah. Ikhlas menerima saya apa adanya.
Ya Allah, semoga list hidup saya tahun ini terlunasi satu persatu.


Aaaminn.




Selasa, 04 November 2014

Kemudian Bangkit

Percaya deh, selama kita hidup, masalah akan selalu saja datang. Berbagai macam masalah hanya kita pribadi yang dapat menyelesaikannya sendiri, sedangkan orang lain hanya membantu sebisanya.
Saya pernah mengalami fase pahitnya masalah. Dimulai dari merasakan kehilangan seseorang yang sangat saya cintai, merasa tidak dihargai, dilepas begitu saja. O ternyata pacaran “begini” saja, tanpa ada komitmen yang serius. Rugi juga ya ternyata, sebatas kehilangan yang akhirnya menjadi galau nggak keruan. Terus terus …saya bisa banget tiba-tiba nyalahin Allah. Bilang, “Gak adil banget, kenapa dipertemukan kalau nasibnya seperti ini?” Dan bla bla bla lainnya.

Oh ya ampun. Saya ini siapa sih pakai nyalahin Tuhan segala?
Bukankah Allah memang sengaja ya, mempertemukan orang yang tidak tepat untuk sekadar mengambil hikmah dan pelajaran dari-Nya. Jadi, kenapa harus kecewa dengan ketetapan-Nya yang sudah berlalu. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang, bagaimana kita bisa hidup dan manfaatin waktu sebaik-baiknya.

Kalau boleh jujur saya sempat marah sama Allah. Marah banget, karena setelah putus cinta dari seseorang saya jadi mulai berpikir kacau, saya sampai bernazar gini, “Gue gak akan menikah sebelum mati, sepertinya mati lebih baik daripada harus menikah.”

Sebegitunya saya pada Allah, saya durhaka! Entah kenapa kok hidup saya jadi begitu kacau, kalut, hampa, dan lain-lain. Dan tiba-tiba saya sadar, betapa nestapanya saya hidup hanya untuk meratapi penderitaan cecintaan saya yang gagal. Saya mulai ingin meraih akhirat. Kalaupun hidup di dunia saya nelangsa. Saya pikir hidup di akhirat nggak boleh nelangsa lagi. Pun kalau saya galau-galau terus, saya kudu inget Tuhan. Nggak boleh marah-marah lagi sama Allah.

Allah memang ajaib ya, kasih sesuatu yang nggak kita duga. Mau percaya atau tidak. Saat suntuk melanda. Tiba-tiba saya ingin membaca buku islami lagi. Awal saya membukanya, di situ tercantum hadis yang mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk kalian adalah yang tidak menikah, dan sehina-hinanya mayat kalian adalah yang tidak menikah.” (HR. Bukhari)

Jadi percuma dong selama saya hidup penuh amalan yang baik-baik, tapi dengan satu niat saja yang tidak benar, menjadi sia-sia amalan-amalan baik saya saja. Lalu saya jadi addicted membacanya hingga selesai. Saya mulai membenahi diri sedikit demi sedikit. Yang jelas, dalam proses pembenahan diri, saya meminta ampunan Allah yang Maha Pengasih. Saya tersadar atas dosa ucapan dan niat saya yang bernazar waktu itu. Saya banyak menyadari dosa dan kesalahan saya sebelum-sebelumnya.

Saya rutin shalat wajib tepat waktu, shalat sunah, puasa sunah, dan sedekah. Hablum minannas dan hablum minallah, saya jalani. Satu bulan saya jalani. Doa-doa penuh pengampunan dan pengharapan tak pernah luput saya panjatkan. Saya sampai berharap, “Saya tidak mau memulai lagi memiliki rasa cinta kepada siapa pun dulu, saya ingin hidup tenang dulu. Kalaupun ada, saya ingin langsung menikah saja.”

Walhasil, dari pembenahan diri yang saya jalani, saya merasakan kedamaian hati. Namun sayang, tak lama dari pembenahan diri, saya lagi-lagi diberi ujian sama Allah. Saya dipertemukan dengan seseorang yang saya yakini orang yang tepat untuk melabuhkan hati ini ke jenjang pernikahan. Saya berharap banyak dari sosok yang sangat saya idam-idamkan itu. Saya pikir dia orang terakhir yang menggoda hati saya. Tapi ternyata bukan dia. Lagi-lagi saya marah sama tuhan, saya menggugatnya habis-habisan. Saya mengalami keterpurukan yang hebat lagi. Saya menangis sampai tubuh saya lemas, saya menangis sampai tiba-tiba ada selebat bayang hitam melayang, saya menangis sambil tertawa. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana, apakah saya harus mulai membenahi diri lagi? Atau ada yang salah dengan niat saya dalam membenahi diri kemarin? Entahlah, yang jelas pembenahan diri perlu proses yang panjang dan tidak instan.


Saya selalu ingat, Allah bersama orang-orang yang sabar.