Selasa, 15 Desember 2015

Bulan Terbelah di Langit Amerika



Kok bisa bulan terbelah? Penasaran? Jadi, sampai saya tahu akhir cerita ini, barulah terkuak bulan memang bisa terbelah. Lho, emang ini film tentang apa? 
 
Ini adalah film untuk mengembalikan citra Islam yang sempat tidak dilihat dari sisi kebaikannya saja. Setelah 11 September tahun silam. Islam itu rahmatan lil ‘alamin yang penuh kedamaian dan hal-hal baik, tapi mengapa justru itu yang tidak dilihat oleh orang-orang yang islamophobia?? 

Film ini diawali dengan scene Azima Hussein yang diperankan oleh Rianti Cartwright dan Ibrahim Hussein, suaminya, yang merayakan hari ulang tahun anak mereka. Adegan memberikan sebuah Al-Qur`an sebagai hadiah ulang tahunnya dengan memberikan sepotong nasihat dari Husein, membuat film ini memberikan meaning yang ingin disampaikan pada adegan selanjutnya. Bahwa Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk umat muslim, sebagai rahmatan lil ‘alamin. 

Film ini cukup membuat saya bergidik, ketika Azima memiliki mimik keterkejutan saat menonton berita, gedung WTC dibom. Padahal, ketika itu sang suami sedang berada di Gedung tersebut. Dari sinilah, suami Azima dituduh sebagai penyebab kematian orang-orang di gedung itu

Beralih ke scene selanjutnya, pada sebuah negara yang megah dan besar, New york. Hanum yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Abimana sebagai Rangga dengan senang hati meninggalkan Wina, ibukota Austria dengan rencana masing-masing.
Hanum ditugaskan untuk menulis artikel dengan tema, apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam? Sedangkan Rangga ditugaskan oleh profesor Reinhard, untuk mewawancari Philipus Brown seorang milyarder di Amerika. Hubungan Hanum dan Rangga diwarnai persinggungan konflik di antara mereka. Dimulai ketika Rangga menghilangkan map kuning milik Hanum di dalam taksi. Map kuning itu berisi korespondensi yang Hanum harus tuju, seorang narasumber Azima Hussein yang berganti nama Julia Collin, seorang wanita muslim yang memilki suami bernama Ibrahim yang tewas ketika 11 september di WTC dan dituduh sebagai teroris. 

Rangga tidak menyerah menghubungi Chris, si sopir taksi yang telah membawa map kuning itu pergi entah ke mana. Hanum juga begitu, mencoba mencari tahu alamat Julia Collin. Dengan bantuan Jasmine yang diperankan oleh Hannah Al Rashid, Hanum berhasil mendapatkan alamatnya.
Rangga dengan sosok suami yang bertanggung jawab sangat cocok diperankan Abimana yang terlihat natural memainkan film ini. Di tengah kesibukan Rangga yang ingin mewawancari Philipus Brown, ia tidak lupa pada istrinya. Tanggung jawab istri ada padanya. Walau Hanum sendiri nampak yakin, si Rangga mengacuhkannya dan hanya memikirkan tugas pentingnya saja.

Sayangnya, Abimana yang berperan sebagai Rangga ketika memerankan adegan mendapatkan informasi map kuning tersebut mimik muka tidak nampak ekspresif.  
Scene yang sangat saya sukai ada pada ini, ketika Hanum berhasil masuk ke rumah Azima dengan terlebih dulu ia salah memasuki rumah orang dan mendapatkan diskriminasi wanita berhijab, atau lebih tepatnya seorang muslim, yang menyebabkan anaknya tewas dalam insiden 11 Sepetember 2001. 

Hanum juga berhasil meyakinkan Azima untuk mau diwawancarai, walau sebelumnya ia sempat diusir. Hanum juga berhasil meyakinkan tetangga Azima bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, pembawa kedamaian.  
Hanum tanpa ditemani sang suami, berhasil mewawancari Azima dan mendapatkan data-data yang valid. Namun, Hanum kembali marah dengan Rangga karena tidak bisa memenuhi janjinya menemani Hanum pergi untuk mewawancari Micheal Jhon, seorang yang menolak pembangunan Mesjid di Ground Zero. Bukannya tidak mau menemani Hanum. Namun, di waktu yang bersamaan, Rangga harus menemui Philipus Brown.

Mulai dari sini, alur konflik semakin terbuka. Apa yang terjadi ketika Hanum dan Rangga tidak saling bersatu di Amerika? Akankah dunia lebih baik tanpa Islam? Jawabannya ada pada film ini, nantikan tayangan filmnya, serentak di bioskop kesayangan Anda pada tanggal 17 Desember 2015…


Senin, 14 Desember 2015

"Bahagianya" kok nggak habis-habis?



Saya kedatangan seorang sahabat di kosan saya, kami bercerita. Tentang apa saja.
Kami jarang bertemu, dan sekalinya bertemu, tentu kami saling bercerita apa pun. Dari keseharian menjalani aktivitas, masa kelam, serta bercerita masa terang kami dengan perencanaan ini-itu. Kami saling bertukar nasihat dan pesan. Anehnya, saya selalu bersependapat dengan dirinya. Entah dengan satu sahabat ini, saya pikir saya banyak kesamaan persetujuan dan penolakan yang terjadi di kehidupan saya. 

Dalam persoalan kami, terlintas topik yang saya sangat elukan akhir-akhir ini. Jejaring sosial dan si tokoh utamanya. Saya keluarkan uneg-uneg yang membuat saya tidak senang dengan pengguna jejaring sosial seperti facebook dan path, yang banyak saya singgung dengannya. 
“Postingannya nggak bermanfaat banget gitu loh, iya kalau bermanfaat, kan setidaknya menyenangkan juga. Atau kalau mau, jangan sampai membuat muak orang yang melihatnya.” Begitulah kira-kira keluhan saya terhadapnya.

Saya menganggap orang-orang yang punya facebook dan path atau jejaring sosial lainnya seharusnya cukup cerdas menggunakannya. Saya? Memang nggak cukup cerdas, setidaknya saya cukup bertoleransi menggunakannya.
Entah ini hanya keirian, kedengkian atau muak yang terjadi saat melihat postingan di facebook dan path yang NGGAK seharusnya penting dipublikasikan? Dan cukup si tokoh utamanya saja yang SEHARUSNYA membuat privasi postingan.

Banyak teman dari kita yang belum mendapatkan pasangan, cukuplah bertoleransi dengan tidak mempublikasikan terus-terusan kemesraan kalian di dunia maya. Apalagi dengan caption yang tidak begitu penting dan terlalu mengada-ngada. Trust me, bukan iri yang orang lain akan rasakan, tapi geli atau bahkan menjelma muak. 

Atau mempublikasikan anak kalian yang sudah bisa merangkak, berdiri, makan sendiri, pakai baju sendiri, dengan caption yang tidak begitu penting untuk orang lain? Oh, please, kalian bisa sibuk dengan itu? Apakah tidak sedikitpun kalian merasakan kedukaan teman kita yang belum ditakdirkan memiliki anak? Oh sudahlah, mungkin hati nurani kalian sudah mati. 

Memiliki barang mewah, dengan meng-upload-nya di sebuah jejaring sosial, berharap ada yang mengira kalian berkelas? Saya justru berpikir kalian tidak berkelas. Bertoleransilah jika temanmu bisa isi pulsanya  saja sudah cukup. 

Sifat ujub, riya, angkuh, dan teman-temannya sudah seharunya dikikis sedikit-demi sedikit. Media sosial sangat rentan untuk kita berpamer-pamer ria. Iya kalau kita cukup cerdas memamerkan hasil karya kita dan menjadi inspiring orang yang melihatnya. Akan tambah indah  suasananya jika begitu.


Nggak perlu sedikit-dikit diposting, tapi sedikit-dikit pamernya dihilangkan, coba…  


Kamis, 26 Maret 2015

Nerbitin Buku

Ini adalah tahun kedua saya menjalani pekerjaan full time sebagai Copy Editor buku keislaman. 

Berikut paparan tentang job desk saya, Mulai dari mencari penulis potensial. Mencari tema. Mengonsepkannya bareng-bareng. Mengingat penulis tentang deadline tulisannya. Menyunting hasil tulisannya. Memikirkan konsep layout dalam buku bekerjasama dengan layouter. Mengonsep cover buku bekerjasama dengan design grafis. Setelah buku terbit, kerjaan saya tidak sampai sebatas hanya buku sudah siap terbit saja dan saya bisa goyang dumang langsung berpikir tenang dan hati senang. BUKAN. 

Saya masih berpikir, bagaimana nih buku bisa laku di pasaran. Oya, tentunya dengan berpromo ya. Ok, itulah kerjaan saya. Saya dengan penulis mengonsep promo bukunya. Dengan cara yang bisa Boom. Alhamdulillahnya, semua media sosial mempermudah kerjaan saya. Jadi, saya analisa saja media sosial yang sudah menjamur ini. Apa kelebihan dan keuntungannya jika buku ini saya promokan lewat salah satu media sosial. 
Belum lagi promo off line yang saya harus pikirkan matang-matang. Ya, book launching, booktalk, de el el. Plus saya harus banyak berhubungan dengan teman-teman (kantor) di luar redaksi. Seperti, bagian pemasaran, promosi, web, sekretaris, media sosial, dan bagian e-book

Itulah garis besar kerjaan saya sebagai copy editor. Saya lebih banyak menyiapkan tenaga untuk berpikir. Well, saya sudah melewatinya selama dua tahun ini. Tentunya banyak suka-duka yang saya kerjakan sebagai Copy Editor. Lebih banyak sukanya lho, dan saya yakin dengan bekerja di dunia perbukuan yang notabene kerjaan mulia ini, saya banyak kecipratan pahala baiknya. Apalagi menjalaninya dengan rasa ikhlas. 

Salam, 


idhan


Artikel ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge bulan Maret 2015  http://indonesian-hijabblogger.com/2015/03/ihb-maret-blog-post-challenge/