Minggu, 24 Januari 2016

untuk wanita yang paling kejam mulutnya



 Terkadang, kita sebagai hamba-Nya lupa siapa diri kita di hadapan-Nya. Dengan mudah merendahkan orang lain tanpa mellihat kealpaan kita sendiri. Sadarkah, di dalam dunia ini, Allahlah yang paling berhak menilai siapa kita.
 Sepertinya, manusia akan begitu terus. Gibah dan nyinyirin orang sudah menjadi hobi yang paling disukainya, Naudzubillah… 
 
Tidak ada kerjaankah sampai merendahkan orang lain dengan sebegitunya? TIdak merasa dosakah bila menyindirnya? Tidak berani bicara di hadapannyakah sehingga kamu sebegitu menjadi pengecut mengumbar obrolan sampah di sana-sini?   

Kenapa harus merendahkan orang lain? Mengapa kamu terlalu sibuk mencari-cari sela kesalahan orang lain? Tak terlihatkah kesalahan yang telah kamu perbuat? 
Apakah dia pernah membuatmu bersalah sehingga kamu dengan ringan mulut merendahkannya? 
 
Ah sudahlah, mungkin hidupmu penuh dengan keaiban sendiri sehinggga terlalu susah diremah. Jagalah lisanmu sebagaimana kamu menjaga auratmu. Karena kita tidak akan pernah tahu, kematian akan datang kepada kita dengan cara seperti apa. 

Untuk wanita yang paling baik hatinya, mungkin nasihat-menasihati adalah jalan yang mulia untuk menegur saudara seiman, ketimbang menabung dosa dengan menyinyir.






Sabtu, 09 Januari 2016

Bukan Hijabers Biasa



Ini bukan suatu komunitas yang berdiri karena memiliki suatu kesukaan yang sama.
Ini bukan suatu komunitas yang sengaja didirikan untuk suatu kepentingan tertentu.
Kami disatukan dalam dunia religi,
Kami disatukan di sekolah yang sama,
Kami alumni santriwati daar-el-qalam,
Kami satu angkatan,
Kami angkatan green generation,
Kami angkatan 32.
Rasanya bahagia jalinan ukhuwah ini masih dan akan terus berlanjut hingga maut memisahkan kami.
Segala jarak dan kesempatan, Allah menyatukan kami setelah kelulusan yang satu per satu akhirnya memilih jalannya sendiri-sendiri.
Kami berkumpul karena paksaan. Kami menyatu karena ingin kembali. Dan,  kami bertemu dalam suatu acara, pernikahan.
Mungkin ini fenomena yang orang pahami dengan istilah 'reuni' di pernikahan.
Semenjak haflatu tahrij/wisuda/graduation angkatan kami, 32. Salah satu teman kami akhirnya melepas masa lajang. Teman kami mengundang. Kami pun turut hadir.
Kami hanyut dalam suasana jalinan ukhuwah. Kami lihat-lihatan, bercerita, bergosip, lalu say goodbye.
Begitu seterusnya sampai benar-benar habis si para lajang 32 ini menikah.
Jadi, sangat mudah menebak siapa yang masih single di antara kami.
Mungkin, kami tak saling menjadi sahabat dari sekian banyaknya teman di angkatan 32. Tapi, kami sangat bisa mengakrabi satu sama lainnya.
Kami ini saudara perjuangan.
Dulu, kami punya banyak divisi, dan banyak geng. Masing-masing dari kami memilikinya. Tak satu pun yang sendiri.
Selesai haflah, kami buat kelompok pertemanan yang berbeda lagi. Mungkin karena jarak dan intensitasnya.
Entah kenapa, walau berbeda geng, kami tetap bisa menyatu saat lalu lintas mata kami menyebrang bahkan melebur saling membahagiakan satu sama lain. Itulah kami, angkatan 32.
Kami yang akan terus melebur. In sya Allah.