Sabtu, 08 April 2017

Hangout Seru di Paviliun 28

Alhamdulillah, akhirnya saya memenangkan giveaway nonton film Kartini, bareng Gita Gutawa yang diselenggarakan oleh portal berita merahputih.com. Karena masing-masing pemenang mendapatkan dua tiket. Saya mengajak teman saya untuk menemani kesepian saya. Eits, kalem, masih mahram kok. Saya ajak Mba Tree untuk bertemu di TKP, Plaza Senayan. Setelah kami menonton, kami buru-buru beranjak dari Plaza Senayan untuk mencari makan di luar Mall. (karena makan di mall terlalu sudah biasa buat saya dan Mba Tree) Buat yang penasaran review sama film Kartini, kamu bisa cek di sini ya.

Menuju parkiran, saya dan Mba Tree terlalu bingung menentukan tempat kulineran yang asik buat kami jajahi. Saya menawari Mba Tree untuk singgah di Paviliun 28, karena saya sudah lama sekali tahu dan penasaran dengan tempatnya yang kerap saya lihat hanya melalui instagram. Juga dari youtuber, Bena Kribo yang mengadakan acara lamarannya di sana.
Motor saya melaju pelan-pelan dari arah dr. Moestopo menuju kawasan Blok M dan tibalah di Petogogan, Paviliun 28. Tada…

Saya agak kaget pas mau markir motor tepat di pintu depan Paviliun, Bo, parkiran motor di mana neeh? Yang saya lihat penuh dengan mobil yang terparkir rapi. Nggak lama saya keki karena parkiran motor, Kang parkir manggil saya dengan maksud parkiran motornya disediakan di tempat lain (yang entah itu rumah sopose). Oke and fine, saya disebrangi sama Kang Parkirnya. Untungnya saya nggak pake acara pegangan tangan dan nyebrang berdua sama Kang Parkirnya.


Paviliun 28 ini-itu, tempat yang signature menunya adalah jamu loh teman-teman, makanya ada tulisannya segede alaihim gambreng di dapurnya BAR JAMU! Nah, saya ke sini selain kepo sama tempatnya, saya mau nyobain jamu di mari! Yup saya suka jamu, ada yang nggak suka gitu?
Pas masuk, saya lagi-lagi keki sama suasananya, biasalah yah, anak-anak muda pas malam minggunya melipir di Paviliun 28 itu karakternya kayak gimana. Bau asap rokok defected dan saya lihat minuman keras, MIRAS, apa pun namamu.. tak akan kusentuh lagi dan tak akan kusentuh lagi.. (cie ngedangdut woy?)

Di Paviliun 28 ini, termasuk tempat hangout yang baru berjalan sekitar 3 tahun lho. Banyak musisi indie yang jamming di sini. Kadang, tempat ini juga dipakai buat launching buku, seminar, atau event-event lainnya. Mungkin buat kamu yang mau mengadakan gathering entah apa pun itu, bisa juga nih reservasi tempatnya.

Buat yang suka film-film indie, setiap hari Jum’at dan Sabtu, ada bioskop kecilnya juga. Yep, ada! Tapi bayarrrr, HTMnya 30 ribu.    

Selain ada beberapa jenis minuman jamu yang disediakan, di tempat ini kamu juga bisa memesan beberapa aneka makanan berat dan semi berat. Aish, pokoknya mau ngemal-ngemil di sini juga ada lah. Makanan berat yang saya pesan nasi bakarnya enak. Emaaf lho, Saya foto nasi bakarnya setelah saya lahap habis nasinya. Maklum keburu lapar, Cuy. Setelah makan kenyang, saya memutuskan untuk mencoba minum jamu. Tadinya saya pesan jamu nafsu makan yang cuman 15 ribu saja. Ternyata nggak ada. Dan saya pesan beras kencur seharga 25 ribu kalau tidak salah. Rasanya enak, beda dari beras kencur mbak-mbak jamu gendongan. 

nasi bakar habis dimakan :D

beras kencurnya naik kelas

Jangan khawatir nyari musala, di Paviliun ada tempat musalanya. Saya sempat ke kamar kecilnya dan lucu. Ada beberapa gambar jadul yang terbingkai dengan figura. Di Pavilun nuansa vintage-nya berasa banget. Bangku dan mejanya ala-ala jadul. 

Saat saya mengobrol lama dengan Mba Tree, ada seorang wanita yang mukanya tak asing lagi. Saya bertemu Kanya! siapa itu Kanya? bisa cek di sini ya
Dia tepat di belakang saya, agak lama sih mau nyapa. Dan akhirnya saya menyapanya, untungnya Kanya ngeh siapa saya, dengan memperkenalkan diri saya yang pernah chatt via twitter. Nggak lama, ada cowok juga yang wajahnya saya kenal juga, ada Bejana Waktu alias Anes.

Kanya ini artis soundcloud dan Anes itu seleb twitter kalau bisa dibilang. Doi terkenal aktif di dunia musik, beberapa band indie kenal akrab dengan Anes. Dan Anes itu temennya Michan juga. Michan teman kantor saya di Agromedia Group. Dan usut punya usut, si Kanya kenal Retno, salah satu teman blogger saya juga. Biasalah Cuy, dunia pertemanan saya sesempit ini. :D 

Saya dan Kanya cukup lama ngobrol. Saling tanya saja. Dan Kanya juga memperkenalkan teman band indienya dari Bandung yang akan tampil di sini, Garamerica. Karena saya dan Mba Tree diminta untuk menyaksikan jamming dari garamerica, kami mendengarkan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri. Cukup menghibur malam minggu saya kali ini. Akhirnya bersentuhan langsung dengan Paviliun 28, akhirnya kopdaran sama Kanya dan Anes, dan kenalan dengan garamerica. Yaay!

garamerica
Jika kamu ingin ke tempat ini, lokasinya di Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru-Jakarta Selatan. Boleh dimampirin kakak..

Nonton Bareng Film Kartini Bersama Gita Gutawa

Nonton film premiere dan gratisan bukan kali pertama saya alami. Saya kerap mendapatkan kesempatan nonton film Indonesia yang berbobot melalui teman blogger. Dan kali ini, saya menang giveaway! Yaay. Awalnya saya melihat hasil regram Mba Aie. Iseng nyoba, siapa tahu beruntung. Saya pun meregramnya dengan caption yang mengena, bisa dilihat sekalian di-follow di sini ya 

Film Kartini dimulai pukul 14.45. Saya datang setengah jam lebih awal. Bertemu dengan Mba Tree dan mengambil hadiah tiketnya di booth merahputih.com dapet goodie yang berisi notebook dan pulpen. Sebelum film dimulai, karena acaranya ini nonton bareng Gita Gutawa, Gita memberikan speech sekisar 5-10 menitan.



Pembukaan film, nampak Kartini yang diperankan Dian Sastro sedang berjalan ala keraton Yogyakarta gitu. Film genre biopik seperti Kartini ini diset dengan latar tahun 1880an seakan saya membaca sejarah. Dari kisah Kartini yang saat sekolah saya pelajari, saya hanya sedikit tahu tentangnya. Hanya melekat di dalam ingatan saya: lahirnya emansipasi pendidikkan untuk wanita, ada pada zamannya. Selebihnya, saya enggan atau tidak mendapatkan pengetahuan tentang siapa Kartini lebih mendalam. Di film Kartini garapan Hanung Bramantyo ini, saya mendapatkan pengetahuan lagi tentang Kartini. Terutama tentang silsilah keluarganya, yang selama saya tonton film ini, saya juga menyambi browsing silsilah keluarganya. 

Sepanjang saya menonton film ini, saya baper: bagaimana hati seorang perempuan yang dinikahi tanpa cinta, poligami, menikah karena paksaan, dll. Saya mendapatkan feel dari film ini, justru karena soal percintaan lebih mengena ketimbang effort Kartini dalam mendidik anak bangsa di desanya sendiri. Namanya juga kisah. Gak ada bumbu-bumbu percintaan tidak akan greng, saudara-saudara. 

Saya suka sama akting Dian Sastro di film ini, dan juga Acha Septriasa yang bermain sebagai Roekmini. Logat Jawa Tengahnya lebih terasa ketimbang Ayushita. Jujur, saat saya melihat akting Ayushita yang bermain sebagai Kardinah, saya seakan menonton The East yang tiap hari sabtu dan minggu tayang di Net Tv itu lho. Jadinya saya tidak menikmati peran Ayushita.


Kenapa Kartini dipingit? Kenapa ayah Kartini berpoligami? Kenapa Kardinah dipaksa ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat untuk menikahi RM Reksoharjono? Kenapa ukiran Jepara menjadi terkenal? Pertanyaan-pertanyaan ini, akan terjawab di film Kartini. Film Kartini akan tayang serentak di bioskop pada tanggal 19 April 2017 mendatang. Jadi buat kamu yang penasaran dengan perjuangan Kartini, tonton filmya, dan ajak teman-teman lainnya.

Menurut saya, film ini wajib ditonton. Selain menginspirasi, untuk anak-anak sekolah yang malas sekali dengan pelajaran sejarah, coba tonton film ini, kamu juga akan mendapatkan pengetahuan tentang Kartini. Ya, biar kalau ditanya guru di sekolah kamu jadi kelihatan pintarnya. Gitu lho. 

Kamis, 23 Maret 2017

Tampil Memukau dengan Pemakaian Warna Lipstik yang Tepat

pinterest.com
Memakai lipstik adalah satu hal yang tidak pernah wanita tinggalkan saat akan keluar rumah. Dengan pulasan bibir akan membuat tampilan kamu semakin percaya diri untuk bertemu dengan siapa pun. Berikut cara memakai warna lisptik yang tepat: 

1.Sesuaikan warna kulit wajah dengan warna lisptik yang akan kamu pakai. Untuk warna kulit yang cenderung putih: gunakanlah warna lisptik yang kalem seperti warna-warna nude. Untuk kamu yang memiliki warna kulit sedang atau kuning langsat: lipstik dengan nude atau warna gonjreng bisa menjadi pilihan terbaik. Untuk kamu yang memilki warna kulit sawo matang: cobalah pakai warna nude kecokelatan atau keoranyean.

2.Sesuaikan warna lipstik dengan warna blush on atau eyesshadow yang akan kamu pakai. Jika lipstik yang akan kamu pakai warna nude, kamu bisa mengaplikasikan warna blush on atau eyesshadow satu tingkat di atas warna lipstik. Dan, jika kamu akan memakai warna lipstik yang menyala, gunakan blush on atau eyesshadow yang soft.

3.Sesuaikan warna lipstik dengan warna hijab yang akan kamu pakai. Apakah kamu akan memakai hijab berwarna hitam dengan memakai warna lipstik yang tidak cerah? Big no. Pakailah lipstik warna nude jika memakai warna hijab yang terang. Begitu pun sebaliknya. Hal ini akan membuat wajahmu lebih outstanding.

Kamis, 23 Februari 2017

Merawat rambut rontok dengan sampo azalea



Biasanya, di rumah kalau lagi bete. Saya hilangkan bete saya dengan beres-beres rumah (mainannya beda, Cuy). Beres-beres rumah kayak nyuci baju, nyeterika, nyuci piring, ngelap, ngepel sampee nyapu kenangan #lah. Nah, hal yang paling baper adalah ketika di rumah, saya sapu dan rumah jadi bersih kayak yang nyapu #kangsapuhandal. Gimana nggak baper, padahal rumah udah disapu, adaa... saja rambut saya yang rontok tergeletak lagi di ubin. Antara nyapunya yang nggak bersih atau memang rambut saya yang rontok.

Well, saya menduga, rambut sayalah penyebabnya. Rambut saya lagi nggak akur sama kepalanya. Ada aja gitu, helai demi helai jatuh. Merawat rambut untuk wanita berhijab memang nggak mudah, Cuy, ada saja keluhannya: lepek, cepet bau karena berkeringat dan ketutupan hijab, kerontokan semakin bertambah, atau bahkan berketombe. Sering-sering sampoan juga bukan solusi terbaik, katanya. Kalau sampoan terbaik cukup dilakukan dua hari sekali, lho Cuy.



Banyak sekali produk sampo khusus wanita berhijab yang menawarkan solusi untuk masalah yang kerap dialami wanita berhijab. Dan, masing-masing produk menawarkan kekhasannya sesuai yang dibutuhkan muslimah untuk perawatan rambutnya. Sampo Azalea dengan ginseng extract-nya mencoba peruntungannya dalam penguatan akar rambut dan zaitun oil-nya yang membuat rambut saya menjadi lembut.   

Saya tidak menyangka kalau natur juga mengeluarkan produk sampo untuk wanita berhijab, lho. Dulu, sebelum jadi ketagihan sampo merek lain. Saya mencoba sampo natur yang wanginya kayak jamu itu lho, Cuy. Saya tertarik karena memang jagoannya di penguatan akar rambut dengan adanya ginseng itu tadi. Namun, saya merasa tidak cocok pada wanginya yang seperti jamu. 

Untungnya, sampo Azalea wanginya berbeda dengan natur. Saya suka wanginya: seger, menenangkan saat keramas dan seketika lupa sama mantan. Walau setelah di ucek-ucek ke rambut, busanya tidak seheboh sampo merek lain yang biasa saya pakai. Busanya nggak lebay ternyata. Pas.
Saat saya keramas, dengan kucekan pertama busa samar-samar, lalu saya tambahkan air di kepala saya, sengaja biar busanya ada aja gitu. Dan, ternyata berhasil. Yaay! ada busa di kepala saya. 
    
Tidak hanya sampo aja, Azalea juga ada hair hijab mist. Gunanya? untuk mengharumkan dan menyegarkan rambut bagi kamu yang berhijab. Hair hijab mist ini terdapat bahan kandungan alaminya juga seperti sampo, ada zaitun oil dan aloe vera extract yang membantu melindungi dan merawat tiap helai rambut sehingga tetap segar, harum, dan mudah diatur.

Saya suka wanginya yang tidak terlalu menyengat. Saya gunakan hair hijab mist ini setelah selesai keramas menggunakan produk yang sama. Mengeringkan rambut dengan handuk dan membiarkan rambut saya lembab, lalu saya baru mulai menggunakan hair hijab mist ini sebelum sisir rambut. Kemudian, baru deh rambut saya disisir, dan mudah diatur.

Dari persoalan kemasan, entah kenapa saya mulai bingung dengan produk yang bernuansa hijab itu... kenapa selalu berwarna hijau ya? *mulaimikir*  Dan saya kurang begitu suka dengan tutupan dari samponya, nggak praktis.




Senin, 13 Februari 2017

Jalan-jalan ke Padang dan Pantai Malin Kundang



Awalnya sih, kepengenan kita geng Power Puff Girls pelesiran ke Sumatra Barat. Karena uni Sri Maria Ulfa salah satu personil geng kami yang punya kampung di Sumatra Barat, Ulfa mengusulkan untuk kami berdelapan mengunjungi kota yang orang-orangnya pandai berdagang tersebut.

Namun, keinginan Ulfa untuk pergi bersama rombongan Power Puff Girls tidak terealisasikan dengan baik. Satu-satu mengundurkan diri dengan alasan yang Ulfa dapat maklumi. Malahan saya, bukan orang yang ngoyo pengin banget pergi ke Padang dalam waktu dekat. Karena, sebelum saya resign, saya sangsi bisa ambil cuti panjang ke ranah minang. Beruntungnya, saya dapat resign sebelum saya dan Ulfa pergi ke Sumatra Barat.

Finally... kami order tiketnya via Traveloka sekalian balik ke Jakarta. Kami memilih maskapai yang bagus dan ongkos yang ramah tentunya. Alhamdulillah, kami dapat booking langsung untuk pulang dan pergi dengan maskapai yang berbeda karena kami tetep cari yang murah #teuteup. Cuss dapat tiket melalui email, memesan tiket via Traveloka ternyata gampang ya: tinggal isi formulirnya dan bayar deh.   

Hari H pun tiba. Karena saya nebeng Ulfa biar sampai ke Bandara, saya samperinlah ke rumah Ulfa. Adik Ulfa, si Miftah juga ikut pergi. Miftah yang memang kuliah di Unand (Universitas Andalas) harus masuk kampus, karena liburan panjangnya telah usai. Kami pun berangkat bertiga ke Sumatra Barat.

Dengan disopiri oleh Uda Faisal dan rombongan keluarga kecilnya yang juga ikut. Sampailah kami di Bandara Soekarno Hatta. Tepat setengah jam sebelum take off. Dari Pondok Kacang via Tol Ciledug. 30 menit cuy! Mungkin karena hari minggu, dan alhamdulillah-nya tolnya lancar jaya!

Dengan menaiki Pesawat Sriwijaya yang take off pukul 09.05 dan tiba di Padang sampai pukul 10.45 Kami dijemput Bang Iis, abangnya Ulfa. Tujuan pertama kami sesampainya di Padang adalah Mesjid Raya Sumbar dan Salat Zuhur di sana. Mesjid Raya Sumbar memiliki arsitektur yang unik, bentuk kubahnya berbeda dengan mesjid pada umumnya, berbentuk persegi dengan tiap sudutnya tinggi menjulang, seperti kekhasan pada rumah minang. Kalau kita lihat dari bagian mana pun kubahnya yang unik tersebut tetap berbentuk sama. 

Penampakan dari dalam Mesjid

Penampakan dari luar
Mesjid ini terbilang baru selesai dibangun, setelah peletakan batu pada tahun 2007. Pas saya datang ke sana, halaman mesjidnya sudah ada dan sedikit rerumputan yang menyembul dari tanahnya. Atas izin Allah, saya akhirnya bisa melihat langsung dan salat di rumah-Nya yang termasuk mesjid terbesar dan anti gempa di Sumatra Barat ini, yaay!

Lalu, kami melipir ke rumah makan yang tidak jauh dari Mesjid. Setelah perut-perut kami kenyang, Bang Iis dengan semangat 45 menyopiri kami berkeliling kota Padang, melewati Jembatan Siti Nurbaya dan mengililingi kampus Unand. Perjalanan keliling setengah kota Padang diakhiri dengan guyuran hujan.

Tujuan terakhir pertama kali menginjakkan kaki di Padang adalah rumah Ayang, entah kenapa tantenya Ulfa dipanggil dengan sebutan Ayang. Kami hinggap di rumah Ayang yang berada di Bandar Buat, tak jauh dari Pasar Bandar Buat. Saat itu matahari hampir tenggelam dan berganti kegelapan malam. Bang Iis dan keluarga kecilnya hanya mengantarkan saya, Ulfa, dan Miftah sampai rumah Ayang saja. Karena besoknya, Bang Iis dan istrinya sudah kembali bekerja di Pariaman. Sedangkan Miftah, malamnya sudah harus beristirahat di kosannya.  

Pantai Malin Kundang

Keesokan harinya, saya, Ulfa, dan Meri, anak sulung dari Ayang pergi ke Pantai Air Manis dengan menggunakan moda Padang, dari Bandar Buat naik angkot menuju Pasar Raya. Karena waktu azan zuhur telah tiba, kami salat di sekitar Pasar Raya, namanya Mesjid At-Taqwa Muhammadiyah 



Di Pasar Raya, kami mencari saudaranya Ulfa yang berdagang di sana. Dan kami sempat melewati alun-alunnya Padang. "Meri, itu apa?" saya menunjuki gedung yang atapnya khas rumah minang tersebut. "Tempat duduk-duduk, Kak." jawab Meri. Saya agak kurang percaya sama Meri, lalu saya jalan cepat mendekati gedung yang mirip Anjungan Sumatra Barat di TMII. Owh ternyata benar, gedung itu hanya untuk tempat duduk-duduk saja, tapi bukan sekadar tempat duduk. Gedung ini bisa saya sebut stadion bola terbuka. Soalnya, depan gedungnya ada tanah lapang.  


yang kata meri, tempat duduk-duduk

duh, taglinenya cuy...

Lalu lanjut mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan ke arah SMAN 6. Ada yang cukup unik pada angkot Padang: terdapat sound system yang abang sopirnya tidak sungkan-sungkan menyetel lagu remix padang dengan volume yang memekakkan telinga. 

sound system alaihim gambreng
Bayangin dong perjalanan dari Pasar Raya menuju TKP lumayan lama: 45 menit kuranglebih dan sepanjang jalan saya terpaksa mendengar lagu yang kencang tersebut. Duh Bang... congek gue mental deh nanti..

Setelah berhenti di SMAN 6, ada pangkalan ojek yang akan membawa kami ke Pantai Air Manis.  Di pangkalan ojek, saya hanya melihat bapak ojek seorang diri tanpa ada kawan-kawannya, sedangkan kami ada tiga orang. “Pak, berapa ke pantai air manis?” tanya Ulfa pakai bahasa minang. “20,000 aja dek.” jawab bapak ojeknya. Saya agak speechless mendengar kata 20.000, itu artinya ongkos naik ojek pulang-pergi 40.000, Cuy.

Yaudah deh, masa iya mau nggak jadi hanya gara-gara ongkos yang terlalu mahal itu. Akhirnya kami menunggu dengan sabar kedatangan geng motor ojek yang kurang dua orang. Perjalanan dari bawah ke atas agak-agak serem ya... jalanannya nggak lebar dan banyak kelokan untuk bisa sampai ke Pantai Malin Kundangnya. Dan, nggak mungkin geng motor ojeknya dibuat trek-trekan di medan yang terbilang serem ini. Lumayan jauh sih, dari pangkalan menuju lokasi. 15 menitan.  

Sampailah kami di Pantai Air Manis. Sepi euy. Iyalah, karena kami berkunjung bukan pada hari libur. Eh jadi saya kepo deh, kenapa pantai ini dinamakan Pantai Air Manis ya, ada yang tahu? 
Saya dan Ulfa penasaran dengan Malin Kundang yang sudah dikutuk jadi batu, pengennya sih, selfie kalau malin kundangnya belum jadi batu. Apa daya, pas ke sana si Malin udah jadi batu. 

Konon, Malin Kundang jadi batu karena dikutuk oleh emaknya. Pulang dari rantauan, si Malin terlena dengan harta dan wanita. Doi malu, lalu tidak mau mengakui emaknya yang miskin dan sudah tua renta itu. Emaknya sakit hati atas perlakuan anaknya dan berdoa agar si Malin menjadi batu saja, dan doa orangtua luar biasa kesaktiannya: terbukti Malin Kundang sudah menjadi batu. 

Ini bisa menjadi pelajaran buat kita agar tidak kurang ajar sama emak yang sudah melahirkan dan merawat kita hingga saat ini. (maafkan aku emaaak, yang belum bisa ngasih mantu sampai sekarang, -EH-) Fyi, kata kang foto di sana, bagian kepala si Malin sudah tidak asli lagi lho.

Malin Kundang
Pantai manis yang terlihat seru ombak-ombaknya membuat kami penasaran menyusuri pantainya saja tanpa main air di sana.

sepi beud

ada spot yang kece buat foto
“Kalau ada sumur di ladang, bolehkah kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, bolehkah kita bertemu lagi?”

22/01/17

Kamis, 12 Januari 2017

Tampil Percaya Diri dengan Vitalis Fragranced Body Spray



Tahun baru, pastinya banyak dari kalian yang memiliki seabreg resolusi tahun ini. Begitu juga dengan padatnya rencana-rencana tahun ini. Btw, siapa di bulan Januari ini yang sudah fullbook buat datang ke acara kondangan?? *ngacung dewek* 

Sebenarnya dengan banyaknya undangan yang datang pada saya bukanlah menjadi hal yang perlu dicemaskan, mungkin karena sudah terlatih dapet undangan pernikahan dari mana-mana. :P
Selain itu, tampil cantik di acara kondangan sepertinya jadi kerempongan tersendiri ya buat perempuan, termasuk saya. Mulai dari milih baju, mencocokkan jilbab, sampai memadukan tas dan sepatu yang cocok. Kudu sabar buat tampil cantik.

Tapi, sepertinya kalau dandanan udah kece dan masih kurang pede. Ada sesuatu yang kurang. Penting banget buat tampil percaya diri. Nah, buat kamu yang masih kurang percaya diri. Coba pakai Vitalis Fragranced Body Spray ini deh. Dijamin akan tampil percaya diri dan fresh sepanjang hari. Apalagi saat menghadiri beberapa acara penting. You can still feel confident and fresh

Saya mendapatkan kiriman parfum body spray ini lho. Ringan sekali dan mudah dibawa ke mana-mana.
 
Saya pernah mencoba ketiga body spray ini (Vitalis Glamorous Dream, Vitalis Glamorous Fantasy, dan Vitalis Glamorous Sheer). Saya pakai setelah habis mandi. Caranya, semprotkan body spray ke tubuh dengan jarak 15 cm. Saya suka dengan wangi ketiga-tiganya. Terkesan glamorous tapi tetap lembut serta menyegarkan. Dan, wanginya tidak terlalu menyengat. Apalagi saat saya pakai pada siang hari. The best thing is, ketika bercampur keringat dan terkena paparan sinar matahari, wangi dari vitalis ini tidak menguar ke hidung terlalu lebay. Pas aja gitu. The admiration from Vitalis Fragranced Body Spray is irreplacable.

Vitalis Glamorous Dream
Campuran wangi orange, flower, dan musky ini wanginya sangat lembut, feminin, dan asyik. Kesegaran wanginya tahan lama, aseli nggak perez.




Vitalis Glamorous Fantasy
Campuran wangi floral powdery dan musky ini tercium dengan sangat segar dan memukau. Membuat saya nggak bisa move-on dari wanginya.




Vitalis Glamorous Sheer
Campuran wangi fruity, floral, gourmand, dan woody ini menjadi wangi terfavorit saya di antara keduanya. Entah kenapa wangi ini agak manis gimana gitu.



Ketiga Vitalis Fragranced Body Spray ini sangat tahan lama dan sungguh menyegarkan! Worth it sama harganya yang cuman bisa kebeli di harga 20 ribuan. Udah gitu, sangat mudah didapatkan. Dan... berlabel HALAL *noted*

Buat kamu yang masih penasaran dengan Vitalis Fragranced Body Spray cuz klik link ini ya  ada  lomba berhadiah perhiasan Swarovski juga lho.