Jalan-jalan ke Padang dan Pantai Malin Kundang



Awalnya sih, kepengenan kita geng Power Puff Girls pelesiran ke Sumatra Barat. Karena uni Sri Maria Ulfa salah satu personil geng kami yang punya kampung di Sumatra Barat, Ulfa mengusulkan untuk kami berdelapan mengunjungi kota yang orang-orangnya pandai berdagang tersebut.

Namun, keinginan Ulfa untuk pergi bersama rombongan Power Puff Girls tidak terealisasikan dengan baik. Satu-satu mengundurkan diri dengan alasan yang Ulfa dapat maklumi. Malahan saya, bukan orang yang ngoyo pengin banget pergi ke Padang dalam waktu dekat. Karena, sebelum saya resign, saya sangsi bisa ambil cuti panjang ke ranah minang. Beruntungnya, saya dapat resign sebelum saya dan Ulfa pergi ke Sumatra Barat.

Finally... kami order tiketnya via Traveloka sekalian balik ke Jakarta. Kami memilih maskapai yang bagus dan ongkos yang ramah tentunya. Alhamdulillah, kami dapat booking langsung untuk pulang dan pergi dengan maskapai yang berbeda karena kami tetep cari yang murah #teuteup. Cuss dapat tiket melalui email, memesan tiket via Traveloka ternyata gampang ya: tinggal isi formulirnya dan bayar deh.   

Hari H pun tiba. Karena saya nebeng Ulfa biar sampai ke Bandara, saya samperinlah ke rumah Ulfa. Adik Ulfa, si Miftah juga ikut pergi. Miftah yang memang kuliah di Unand (Universitas Andalas) harus masuk kampus, karena liburan panjangnya telah usai. Kami pun berangkat bertiga ke Sumatra Barat.

Dengan disopiri oleh Uda Faisal dan rombongan keluarga kecilnya yang juga ikut. Sampailah kami di Bandara Soekarno Hatta. Tepat setengah jam sebelum take off. Dari Pondok Kacang via Tol Ciledug. 30 menit cuy! Mungkin karena hari minggu, dan alhamdulillah-nya tolnya lancar jaya!

Dengan menaiki Pesawat Sriwijaya yang take off pukul 09.05 dan tiba di Padang sampai pukul 10.45 Kami dijemput Bang Iis, abangnya Ulfa. Tujuan pertama kami sesampainya di Padang adalah Mesjid Raya Sumbar dan Salat Zuhur di sana. Mesjid Raya Sumbar memiliki arsitektur yang unik, bentuk kubahnya berbeda dengan mesjid pada umumnya, berbentuk persegi dengan tiap sudutnya tinggi menjulang, seperti kekhasan pada rumah minang. Kalau kita lihat dari bagian mana pun kubahnya yang unik tersebut tetap berbentuk sama. 

Penampakan dari dalam Mesjid

Penampakan dari luar
Mesjid ini terbilang baru selesai dibangun, setelah peletakan batu pada tahun 2007. Pas saya datang ke sana, halaman mesjidnya sudah ada dan sedikit rerumputan yang menyembul dari tanahnya. Atas izin Allah, saya akhirnya bisa melihat langsung dan salat di rumah-Nya yang termasuk mesjid terbesar dan anti gempa di Sumatra Barat ini, yaay!

Lalu, kami melipir ke rumah makan yang tidak jauh dari Mesjid. Setelah perut-perut kami kenyang, Bang Iis dengan semangat 45 menyopiri kami berkeliling kota Padang, melewati Jembatan Siti Nurbaya dan mengililingi kampus Unand. Perjalanan keliling setengah kota Padang diakhiri dengan guyuran hujan.

Tujuan terakhir pertama kali menginjakkan kaki di Padang adalah rumah Ayang, entah kenapa tantenya Ulfa dipanggil dengan sebutan Ayang. Kami hinggap di rumah Ayang yang berada di Bandar Buat, tak jauh dari Pasar Bandar Buat. Saat itu matahari hampir tenggelam dan berganti kegelapan malam. Bang Iis dan keluarga kecilnya hanya mengantarkan saya, Ulfa, dan Miftah sampai rumah Ayang saja. Karena besoknya, Bang Iis dan istrinya sudah kembali bekerja di Pariaman. Sedangkan Miftah, malamnya sudah harus beristirahat di kosannya.  

Pantai Malin Kundang

Keesokan harinya, saya, Ulfa, dan Meri, anak sulung dari Ayang pergi ke Pantai Air Manis dengan menggunakan moda Padang, dari Bandar Buat naik angkot menuju Pasar Raya. Karena waktu azan zuhur telah tiba, kami salat di sekitar Pasar Raya, namanya Mesjid At-Taqwa Muhammadiyah 



Di Pasar Raya, kami mencari saudaranya Ulfa yang berdagang di sana. Dan kami sempat melewati alun-alunnya Padang. "Meri, itu apa?" saya menunjuki gedung yang atapnya khas rumah minang tersebut. "Tempat duduk-duduk, Kak." jawab Meri. Saya agak kurang percaya sama Meri, lalu saya jalan cepat mendekati gedung yang mirip Anjungan Sumatra Barat di TMII. Owh ternyata benar, gedung itu hanya untuk tempat duduk-duduk saja, tapi bukan sekadar tempat duduk. Gedung ini bisa saya sebut stadion bola terbuka. Soalnya, depan gedungnya ada tanah lapang.  


yang kata meri, tempat duduk-duduk

duh, taglinenya cuy...

Lalu lanjut mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan ke arah SMAN 6. Ada yang cukup unik pada angkot Padang: terdapat sound system yang abang sopirnya tidak sungkan-sungkan menyetel lagu remix padang dengan volume yang memekakkan telinga. 

sound system alaihim gambreng
Bayangin dong perjalanan dari Pasar Raya menuju TKP lumayan lama: 45 menit kuranglebih dan sepanjang jalan saya terpaksa mendengar lagu yang kencang tersebut. Duh Bang... congek gue mental deh nanti..

Setelah berhenti di SMAN 6, ada pangkalan ojek yang akan membawa kami ke Pantai Air Manis.  Di pangkalan ojek, saya hanya melihat bapak ojek seorang diri tanpa ada kawan-kawannya, sedangkan kami ada tiga orang. “Pak, berapa ke pantai air manis?” tanya Ulfa pakai bahasa minang. “20,000 aja dek.” jawab bapak ojeknya. Saya agak speechless mendengar kata 20.000, itu artinya ongkos naik ojek pulang-pergi 40.000, Cuy.

Yaudah deh, masa iya mau nggak jadi hanya gara-gara ongkos yang terlalu mahal itu. Akhirnya kami menunggu dengan sabar kedatangan geng motor ojek yang kurang dua orang. Perjalanan dari bawah ke atas agak-agak serem ya... jalanannya nggak lebar dan banyak kelokan untuk bisa sampai ke Pantai Malin Kundangnya. Dan, nggak mungkin geng motor ojeknya dibuat trek-trekan di medan yang terbilang serem ini. Lumayan jauh sih, dari pangkalan menuju lokasi. 15 menitan.  

Sampailah kami di Pantai Air Manis. Sepi euy. Iyalah, karena kami berkunjung bukan pada hari libur. Eh jadi saya kepo deh, kenapa pantai ini dinamakan Pantai Air Manis ya, ada yang tahu? 
Saya dan Ulfa penasaran dengan Malin Kundang yang sudah dikutuk jadi batu, pengennya sih, selfie kalau malin kundangnya belum jadi batu. Apa daya, pas ke sana si Malin udah jadi batu. 

Konon, Malin Kundang jadi batu karena dikutuk oleh emaknya. Pulang dari rantauan, si Malin terlena dengan harta dan wanita. Doi malu, lalu tidak mau mengakui emaknya yang miskin dan sudah tua renta itu. Emaknya sakit hati atas perlakuan anaknya dan berdoa agar si Malin menjadi batu saja, dan doa orangtua luar biasa kesaktiannya: terbukti Malin Kundang sudah menjadi batu. 

Ini bisa menjadi pelajaran buat kita agar tidak kurang ajar sama emak yang sudah melahirkan dan merawat kita hingga saat ini. (maafkan aku emaaak, yang belum bisa ngasih mantu sampai sekarang, -EH-) Fyi, kata kang foto di sana, bagian kepala si Malin sudah tidak asli lagi lho.

Malin Kundang
Pantai manis yang terlihat seru ombak-ombaknya membuat kami penasaran menyusuri pantainya saja tanpa main air di sana.

sepi beud

ada spot yang kece buat foto
“Kalau ada sumur di ladang, bolehkah kita menumpang mandi, kalau ada umur yang panjang, bolehkah kita bertemu lagi?”

22/01/17

2 komentar:

  1. Ngeces euy, blm kesampean aja mau ke padang hahaha....bismillah smg bisa main ke padang #Aamiin

    BalasHapus